X logo

Majalah Pertama dan Satu-satunya yang berisi tentang Sains, Budaya dan Spiritualitas di Indonesia


Iklan tidak akan muncul selama 1 jam


Harap menunggu, aplikasi sedang memproses data ...

Catatan : Gangguan apapun terhadap proses ini dapat mengakibatkan kesalahan data


Harap menunggu, aplikasi sedang memproses data ...

Edisi Terbaru
Edisi Terbaru

Jika Orang Beriman Harus Seperti Lebah, Apakah Mukmin Harus Bisa Matematika?




Saya teringat sahabat baik saya yang sangat sayang dengan anakanaknya. Beliau bercerita bagaimana ia meneteskan airmata saat melihat anak pertamanya lulus SD dengan sangat berbahagia. “Kenapa kamu bahagia sekali?” tanya bapaknya.

Anaknya menjawab polos, “Bahagia Pak, karena setelah ini aku mau masuk pesantren dan tidak akan bertemu matematika lagi.”

Sang bapak kemudian bertanya kepada saya apakah belajar matematika itu wajib. Saya jawab: “Belajar matematika itu fardu…. tapi fardu kifayah.” Mendengar jawaban ini sahabat saya itu terlihat lega sekali.

“Cuma ya itu…” lanjut saya dalam obrolan itu: kifayah ya kifayah, tapi jangan asal kifayah lantas dipasrahkan ke orang lain. Bisa-bisa, saat negara kita butuh ahli matematika, nanti yang datang justru matematikawan dari negara lain.

Obrolan seperti ini tampak biasa di tengah masyarakat kita yang seringkali menganggap matematika momok di antara pelajaran-pelajaran lainnya. Satu titik pandang lain adalah bagaimana dengan kaum muslimin? Apakah benar jika kita belajar agama lalu pelajaran sains dan matematika bisa dilupakan begitu saja? Padahal jauh sebelumnya, kita tahu bahwa banyak ahli matematika maupun sains justru berasal dari kalangan ulama.

“Sesungguhnya perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah yang selalu memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik. Ia hinggap namun tidak mematahkan dan merusak” (HR. Imam Ahmad, Imam Hakim). Demikian salah satu hadis yang sangat terkenal dan lebih sering dipahami dari sisi akhlak yang harus ditiru dari hewan lebah sendiri. Biasanya kita memahami hadis ini sebagai isyarat dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam agar mencontoh lebah dalam hal sifat-sifat paripurna yang mereka miliki. Lebah hanya memakan yang baik, maka seorang mukmin pun harus memilih makanannya hanya yang halal dan tayib, mengeluarkan yang baik artinya produktif dan berlisan baik. Lebah hanya hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak tempat hinggapnya, kalau begitu muslim sejati adalah yang menjadi kebaikan dan kemanfaatan di tempatnya berada, bukan justru menjadi sumber kerusakan bagi sekelilingnya.

........

Selengkapnya........>>>

Silakan berlangganan/membeli Majalah Mata Air Edisi 25 menggunakan link di bawah ini.

https://bit.ly/berlanggananMataAir

0 Komentar


Kirimkan komentar anda untuk artikel ini