X logo

Majalah Pertama dan Satu-satunya yang berisi tentang Sains, Budaya dan Spiritualitas di Indonesia


Iklan tidak akan muncul selama 1 jam


Harap menunggu, aplikasi sedang memproses data ...

Catatan : Gangguan apapun terhadap proses ini dapat mengakibatkan kesalahan data


Harap menunggu, aplikasi sedang memproses data ...

Edisi Terbaru
Edisi Terbaru

Buah dari Lima Waktu




Hampir saja sebuah buldozer menimpa seorang kakek tua. Tetapi syukurlah, peristiwa itu akhirnya bisa dicegah setelah sopir buldozer dan si orang tua tadi menyadarinya.  Belum hilang rasa kaget yang mendera sopir dan pak Soleh kepala proyek tempat kejadian tersebut berlangsung, si kakek tua itu  berkata: “Mohon... maafkan kesalahan saya,” beliau pun berlalu begitu saja seakan tidak ada peristiwa tragis yang hampir saja terjadi padanya. Seakan-akan ancaman maut yang baru saja berlalu itu bukan menimpa dirinya. Setelah hawa panik di area kerja itu berlalu, pekerjaan pun dilanjutkan. Soleh mendengar suara azan, ia pun memberikan perintah terakhirnya pada para pekerja sebelum bersegera berangkat ke masjid.

                Sesampainya di masjid, ketika menuju ke tempat wudhu, Soleh melihat orang tua yang selamat dari ancaman maut tadi berada di tempat itu juga. Soleh pun mulai membuntutinya. Ketika ia berwudhu, matanya tak lepas dari sosok orang tua tadi. Ia terus memperhatikan bapak tersebut hingga saat shalat berlangsung. Bukan hanya ketika mengambil wudhu, tetapi semua gerak gerik orang tua ini ketika menunaikan shalat-shalat sunnahnya pun menarik perhatiannya. Selama mengambil wudhu senyumnya senantiasa tersungging di bibirnya, shalatnya demikian menjelaskan kekhusyukan yang dirasakannya. Salawat dan tasbih yang dibacanya menebarkan gelombang ketentraman kepada lingkungan sekitarnya. Beliau mengambil wudhunya dengan penuh perhatian dan rasa takzim. Shalatnya juga istimewa. Posisi berdirinya kokoh seperti pohon beringin, gestur rukuknya menunjukkan keseriusan, dan sujudnya yang seolah menggambarkan bahwa ia sedang menemui kekasihnya telah membangkitkan ketakjuban bagi siapa saja yang melihatnya.

                Setelah menunaikan shalatnya, Soleh segera keluar dari masjid dan berniat membuka topik obrolan dengan orang tua itu. Hati kecilnya seakan mengatakan bahwa ada banyak hal yang bisa dipelajarinya dari “si beringin tua” ini. Sejenak  ia memasukkan tangannya ke dalam kantong mengambil telepon genggamnya dan melihat pesan yang masuk ke teleponnya sekilas. Sambil tetap tersenyum orang tua tersebut keluar dari masjid sambil mendekati Soleh.

-          “Mohon maaf atas kesalahanku tadi Nak, aku nyaris menimpakan musibah kepadamu. Ketika suara azan berkumandang aku tak bisa menahan diri, hatiku tidak rida jika harus kehilangan ‘buahnya’.” Soleh terkejut mendengar kata ‘buah’ yang dipakai orang tua itu, kiranya buah apakah gerangan yang membuat orang tua tadi tak bisa tahan dan tak rida untuk kehilangannya.

-          “Maksud Pak Haji buah apa ya? apakah mereka membagi-bagikan buah-buahan kepada para jamaah masjid?” Orang tua tadi menatap wajah Soleh dalam-dalam. Dengan wajah yang tak sedetikpun lepas dari senyuman itu Beliau melanjutkan perkataannya:

-          “Mereka memanggilku Kakek Usman, nak. Engkaupun bisa memanggilku dengan sebutan itu. Sepertinya kau  belum menyadari buah dari shalat kita.”

-          “Buahnya shalat...?”

-          “Ya… tentu saja, buah dari shalat. Ketahuilah bahwasanya setiap waktu itu memiliki buahnya, manusia setiap hari memakannya, tetapi tidak menyadari kelezatannya. Nah, Aku sedang berusaha untuk dapat merasakan lezatnya buah itu. Saat kudapatkan rasanya, kusadari bahwa kelezatan buah itu tak pernah kutemukan pada buah yang lain. Oleh karena itulah setiap kali azan dikumandangkan rasa gembira seketika menerpaku.” Baru pertama kalinya Soleh mendengar pernyataan seperti ini. Sekilas terlintas di benaknya; “Shalat itu ada buahnya ternyata…”

-          “Kalau begitu mohon jelaskan kepadaku perihal buah tersebut.”

-          “Mengapa harus dijelaskan, jika mau akan  kucicipkan rasanya. Bagaimana kalau kita menikmatinya bersama...?”

-          “Kenapa tidak? Ayo… cicipkan padaku.”  

-          “Sekarang tidak mungkin, Nak, karena buah dari setiap waktu ini terasa lezat hanya pada waktunya saja. Datanglah padaku setiap waktu-waktu itu datang, aku akan menunjukkan buah dari lima waktu ini kepadamu langsung dari cabang pohonnya, pada waktu itu silahkan engkau menikmatinya.”

Soleh memang menunggu-nunggu tawaran ini. Tawaran ini dirasa akan mendatangkan banyak manfaat untuknya. Mereka pun sepakat dan pekerjaan memetik buah dari lima  waktu ini dimulai dari Shalat Subuh di keesokan harinya.

 

Waktu Subuh  baru akan menjelang dan pekatnya malam masih dengan jelas menunjukkan jejaknya. Di ufuk terdapat goresan warna biru tua. Langit pun tampak seperti diselimuti kemeja biru pekat. Kakek Usman dan Soleh bertemu di taman masjid. Kakek  Usman bertanya:

-          “Sekarang perhatikan sekelilingmu. Apa saja yang kau lihat?”

Setelah beberapa saat mengamati sekitarnya, Soleh kemudian menjawab:

-          “Semuanya diselimuti kegelapan malam, semua lelap dalam tidurnya, kehidupan sedang mempersiapkan dirinya menuju hari yang baru, untuk itu semua sedang berada dalam masa istirahatnya. Beberapa saat lagi, kehidupan yang saat ini kita katakan “mati” akan dibangkitkan dan akan pergi  mengalir dalam sebuah keadaan bernyawa.”     

-          “Ya anakku. Waktu subuh sebenarnya mengingatkan kita akan kebangkitan dan bagaimana makhluk hidup bangun dari tidurnya. Sesaat lagi di cakrawala kita akan muncul menampakan kreasi Ilahi. Di seluruh penjuru, perlahan-lahan semua mahluk dan entitas akan bangun. Semua makhluk berbondong-bondong berlalu dengan derasnya di depan mata kita. Saat ini adalah musim semi dari sebuah hari. Shalat Subuh adalah rahim kehidupan. Serigala-serigala dan burung-burung mulai mencari rizkinya di waktu ini. Waktu ini tidak pantas jika dipadankan dengan kemalasan manusia. Semua ciptaan Ilahi menunggu tahmid, syukur, dan tasbih dari jiwa-jiwa yang sadar. Di waktu shalat subuh ini, saat kehidupan dimulai  dan semua mahluk ciptaan telah bangun, Sang Khalik Pemilik kita juga menginginkan agar kita bangun sembari menjadi mahluknya yang memiliki kesadaran, ikut bergabung dalam sebuah kebangkitan besar ini dalam shalat kita.”

Kakek itu terdiam sesaat seakan-akan membiarkan Soleh, si insinyur muda itu mencerna apa yang baru saja dikatakannya.

-          “Coba pikirkan, ketika sedang enak-enaknya tidur di dalam hangatnya selimut, lalu kita membiarkan diri kita ke dalam pelukan sejuknya air wudhu dan sambil menunjukkan pada Sang Khalik bahwa kita telah bangkit lagi untuk bersiap menuju ke hadirat Sang Pencipta. Kita tinggalkan kenyamanan tempat tidur untuk mensyukuri dan memuji Sang Pemberi Rahmat Abadi  yang tak pernah mengharapkan pamrih dari hamba-Nya. Kita pun memuji dan bersyukur pada-Nya sebagai “bayaran pajak” atas semua karunia yang diberikan-Nya secara cuma-cuma. Engkaupun akan menghadap ke kehadapan-Nya kelak, maka mungkinkah Ia  meninggalkanmu tanpa memberikan imbalan apapun di padang mahsyar nantinya?”

Kakek Usman menatap Soleh lekat-lekat:

-          “Lagipula pada waktu ini, apakah pantas jika kita kemudian justru malah menyenangkan syaitan dan bukannya membuat senang Sang Maha Pencipta kita?

Apakah ini imbalan yang pantas kita berikan kepada Dia yang Rahmat-Nya teramat luas?”

Kakek Usman melanjutkan lagi:

-          “Alih-alih memilih kasur kemalasan, memintal selimut kelalaian dan menutup diri dari hakikat kehidupan, justru kita mendirikan shalat yang akan menyingkap tabir materi dan maknawi kebangkitan kita. Lagipula, di sisi Allah kita seharusnya mempersiapkan awal hari kita dengan shalat yang terbaik, karena  beban yang harus ditanggung oleh seseorang dalam sehari sangatlah berat, maka sejak dini kita memohon inayah dan pertolongan dari Allah untuk menguatkan kita sehingga dapat memikul beban tadi. Nah semua permasalahan ini dapat dipecahkan dengan mudah melalui shalat subuh, anakku.”

Mereka pun masuk ke dalam masjid dan menunaikan shalat bersama. Soleh mencoba membayangkan dirinya bersama-sama dengan semua ruh-ruh yang telah bangkit di langit, di hadapan Allah SWT, satu-satunya penguasa bumi maupun langit. Berkebalikan dengan mereka yang tidur, mereka yang menunaikan shalatnya akan merasakan kenikmatan dari sebuah kekhusyukan dan bersyukur kepada Tuhannya yang Maha Rahim. Ini adalah untuk yang pertama kalinya ia shalat subuh dalam keadaan yang begitu khusyuk. Ketika menunaikan shalat ia membayangkan kondisi syaitan yang sedang sengsara melihat shalatnya, serta ia rasakan pula keridaan Allah kepadanya. Ia berpikir bahwasanya shalatnya teramat lezat dan kini ia memahami bagaimana rasanya mengumpulkan kekuatan di awal waktu sebelum memulai aktivitasnya di hari itu.

 

Menjelang dzuhur, ia tergugah dari kesibukan pekerjaannya karena peringatan lembut dari kakek Usman.

-          “Mari anak muda, kita menikmati buah yang kedua…”

Dalam perjalanan menuju masjid, Kakek Usman melanjutkan penjelasannya:

-          Waktu dzuhur adalah potongan waktu dimana kehidupan mulai menyentuh kesempurnaannya. Perumpamaannya seperti masa muda yang merupakan masa paling kuat bagi manusia atau seperti musim panas yang menjadi musim paling hidup. Di waktu ini manusia merasakan nuansa yang berbeda dari kreasi  Ilahi.   Ketika peristiwa-peristiwa agung sedang berlangsung, manusia menjadi saksi bagi berlangsungnya peristiwa tersebut dan dari sisi ini akan menaikkan derajatnya di hadapan Allah SWT. Sesungguhnya Allah memberikan martabat Mi’raj kepada manusia namun sayangnya kitalah yang justru sering merendahkannya.

Sejenak keduanya terdiam agar bisa mencerna penjelasan tadi, lalu kakek Usman melanjutkan:

-          “Waktu panjang dari subuh hingga dzuhur adalah potongan waktu yang amat melelahkan manusia, pekerjaan-pekerjaan yang belum tuntas akan melelahkan ruh, beratnya keadaan dunia meninggalkan bebannya pada tubuh kita dan di potongan waktu ini banyak manusia yang terperosok dalam kelalaian, dan menyebabkannya lupa akan hakikat hidupnya. Demikianlah, shalat dzuhur menyelamatkan ruh dari segala beban itu, memberikan kita kenyamanan dengan menyerahkan beban pekerjaan yang tak tertuntaskan pada “tangan” Tuhannya yang Rahim dan Karim, lewat waktu shalat menjauhkan dirinya dari kelalaian dunia, dan kembali mengingatkannya pada tugas hakiki dari seorang hamba.”

Sekali lagi mereka merenung sejenak.

-          Waktu antara Subuh dan Dzuhur adalah waktu dimana roda rizki berputar paling cepat dan roda ini Ar-Razzaklah yang memutarnya. Tidak ada satupun dari kita yang mampu menghasilkan rizki yang sebesar zarrah sekalipun, di pabrik termodern manapun. Oleh karenanya, tidak perlukah kiranya sebagai sebuah bentuk penghambaan, sebagai seorang manusia, melalui shalat dzuhur bersyukur kepada Ar-Razzak hakiki yang telah memutarkan roda rizkinya dengan cepat dan menghidupkan kita dengan rizkinya?”

Solehpun semakin menikmati shalatnya, walaupun menikmati ibadah bukanlah syarat sahnya shalat. Manusia walaupun belum bisa menikmati shalatnya sekalipun tetap tidak boleh meninggalkan shalatnya itu, namun coba bayangkan betapa indahnya shalat sambil memikirkan maknanya dan bagi Soleh hal ini adalah sesuatu yang baru saja dipelajarinya.

 

Waktu Ashar sebentar lagi tiba. Soleh meninggalkan tempat kerjanya, sambil terus memikirkan buah dari waktu ashar, Ia berjalan menuju masjid.

Ia melihat Kakek Usman sedang mengambil wudhu. Mereka pun memulai kembali perbincangan selepas mengambil wudhu.

-          “Nah, kalau waktu ashar ini pasti merupakan isyarat dari datangnya musim gugur, betul tidak, Kek?”

Orang tua itu menatapnya dengan wajah yang tak lepas dari sunggingan senyumnya:

-          “Perlahan-lahan engkau telah merasakan wangi ranum buah-buahaan ini, nak. Ya, waktu sholat ini, seperti yang kau katakan tadi merupakan perlambang dari musim gugur. Yakni kreasi Ilahi dimanifestasikan pada waktu ini dengan keindahan dan hikmah yang berbeda. Saat materi akan menghilang dari perputarannya sendiri, pada masa dimana  alam semesta bersiap menuju peraduannya ini, Sang Pencipta Yang Maha Mulia terakhir kalinya kembali mengundang umat manusia untuk menyaksikan kreasinya dan setelah lawatan tafakur ini mengajak kita pada syukur dan tasbih. Menyaksikan akhir dari panggung gemerlap terakhir tersebut akan mengantarkan manusia pada kesadaran betapa fananya alam semesta yang luas ini dan menjadi hal yang wajar baginya untuk meminta perlindungan pada Allah SWT. Ini adalah hak Tuhan yang paling asasi atas diri kita, nak. Atas semua nikmat tanpa pamrih yang dicurahkan-Nya kepada kita, mulai dari sinar pertama matahari yang terpancar, sampai dengan semua nikmat tak terhingga yang kita rasakan sampai saat ini, nafas yang engkau hirup, air yang engkau minum, jantungmu yang terus berdetak, serta tangan dan kaki yang engkau gunakan untuk bekerja, apakah tidak perlu bagi kita untuk bersyukur kepada Tuhan melalui perantaraan shalat yang kita tegakkan?”

Pertanyaan ini bagaikan sebutir batu yang jatuh ke dalam samudera hati pemuda ini, yang menyebar melalui gelombang-gelombangnya, kemudian tanpa terasa air matanya pun mengalir. Ketika melangkahkan kakinya menuju masjid bersamaan dengan dilantunkannya suara azan, hati pemuda ini pun meluap gembira. Ia memikirkan rahmat Allah yang memenuhi alam semesta beserta isinya, keberkahan, dan samudra kasih sayang-Nya yang tak berbatas. Ya, Dialah pemilik segalanya yang tak pernah meminta bayaran dari kita atas nikmat-nikmat tersebut. Lalu, apakah pantas bagi seorang muslim jika ia kemudian tidak bersyukur dengan semestinya atas hal ini?

Beberapa langkah lagi tersisa sebelum memasuki masjid, seakan ada sesuatu yang tiba-tiba terbersit di kepalanya, Kakek Usman berhenti berjalan dan melanjutkan kata-katanya:

-          “Waktu ashar adalah sebuah waktu yang mendapat perhatian secara khusus. Oleh karena di tengah-tengah padatnya aktivitas pekerjaan kita, tiba-tiba semua pekerjaan itu disingkirkan untuk kemudian menghadap Sang Rabb adalah sebuah ungkapan kesadaran penghambaan yang sangat istimewa.”

Setelah mendengar kalimat ini, Soleh merasa perlu untuk melakukan muhasabah bagi dirinya. Dalam shalatnya, Ia berusaha melakukan rukuk dan sujud selayaknya seorang hamba. Ia menyingkirkan sementara segala kepadatan pekerjaan,  di saat paling menyibukkan dari duniawi,  lalu menegakkan sholat untuk mengejar keabadian, di sebuah alam yang telah jelas akan kemusnahannya. Keadaan ini benar-benar menentramkannya.

 

Kini Soleh sudah tidak sabar lagi untuk menunggu waktu-waktu shalat. Ketika mendekati waktu maghrib, bersegera ia memperbaharui wudhunya dan mengarahkan langkah kakinya menuju masjid. Sang kakek menunggunya di depan masjid. Setelah bertanya kabar, kakek Usman memulai perbincangan berikutnya dengan sebuah pertanyaan:

-          “Menurutmu, waktu maghrib itu menerangkan perihal apa? Mengapa di waktu maghrib Allah Yang Maha Agung memanggil kita untuk menunaikan shalat?”

Setelah berpikir sebentar, pemuda ini kemudian memberikan jawabannya:

-          “Waktu ini mengingatkan akan momen tidur atau kematian. Pada waktu sholat subuh Umat manusia yang menyaksikan kebangkitan seluruh penghuni alam semesta hingga partikel terkecilnya sekalipun, dipanggil pula untuk menjadi saksi bagi berakhirnya kebangkitan ini. Allah yang menciptakan yang ada dari tiada, dan meniadakan yang ada menginginkan kehadiran manusia sebagai saksi dari waktu kreasi terpenting ini melalui shalatnya.”

-          “Ya, kamu telah menjelaskannya dengan baik. Sedangkan waktu isya mengingatkan tentang musim dinginnya usia kita, musim dinginnya alam ini. Dengannya seakan berseru bahwa semua ciptaan adalah fana sedangkan yang baqa (kekal) hanyalah Allah semata. Setelah menyaksikan bahwasanya segala sesuatu dapat musnah dengan mudahnya, mereka yang kemudian memikirkan akan tiba masa kemusnahan bagi dirinya dan obat yang paling mujarab bagi ruh mereka yang menderita akibat pemikiran ini adalah dengan shalat, mengetuk pintu Sang Pemilik satu-satunya Keabadian Sejati, lewat sujud dan ruku’ kita yang menunjukkan ketidakberdayaan kita dan memohon pertolongan dari-Nya.”       

Saat memasuki masjid kakek Usman telah menyelesaikan penjelasannya. Soleh pun kini benar-benar memahami betapa lemah dirinya. Setelah menunaikan shalat dengan pemahaman ini, ia memohon dengan  doa tulus kepada Rabbnya agar dianugerahi kehidupan yang abadi kelak. Waktu isya telah tiba. Soleh tetap dengan semangat mendengarkan penjelasan Kakek Usman.

-          “Kalau Kau perhatikan, alam semesta ini seakan-akan mengalami kehidupan alam kubur sesudah kematian karena di sekitar kita ada sebuah keheningan yang teramat dalam. Sekarang kita seolah olah berada jauh dari orang-orang terkasih, hanya bersama diri kita sendiri, mengalami kesendirian kita sendiri.”

-          “Yaitu kehidupan alam kubur.”

-          “Ya, Sholat Isya mengingatkan manusia pada kesendirian dan kehidupan di alam kubur.  Nah, sholat pada waktu seperti ini, menunjukkan bahwa kematian bukanlah akhir dan hal khusus yang terpenting adalah persiapan sebelum kematian itu sendiri. Manusia yang mengingat konsep ini, akan sadar bahwa Nur atau cahaya ibadah kitalah yang akan menerangi kegelapan alam kubur nantinya. Ia akan dapat pula melihat bahwa hanya kekuatan mutlak Allah SWT-lah yang mampu mengubah kesendirian alam kubur pada sebuah penantian yang membahagiakan. Dengan  ruku’-nya menampakkan rasa hormat ke hadirat-Nya, dengan sujudnya ia mencoba mendekatkan diri dengan cahaya yang Maha Agung tersebut dan ia mencoba menerangkan alam kegelapannya. Dan Ia juga sangat tahu bahwa setiap sujud yang dilakukannya di dunia ini, setiap ke-tumakninah-an dari semua gerakannya, akan dicatat di sisi Rabb-nya yang kasih sayangnya tak terhingga itu. Dengan ketenangan ini, Ia merasakan bahwa dirinya telah siap menyongsong kematian dan bahkan melihat kematian sebagai şeb-i arus, yakni malam perjumpaan dengan Rabb kita. Jika sholat tidak berada dalam ketenangan ini maka manalah mungkin manusia terselamatkan dari kegelapan yang sebenarnya.”

Saat anak muda itu memikirkan penjelasan atas hakikat dari pertanyaan ini, kakek Usman meneruskan:

-          “Shalat isya adalah stempel iman yang dicapkan di penghujung hari. Manusia yang memulai harinya dengan iman dari shalat subuh, akan mengakhiri harinya dengan keimanan sambil menempelkan stempel dari shalat Isyanya. Berharap akan wafat dengan keimanan ini dan dibangkitan pula dalam keimanan yang sama.

Di bawah sinar thalibul ilmi ini mereka berdua berpisah selepas menunaikan shalat isya yang penuh keberkahan. Sejak saat itu, Soleh senantiasa menunaikan shalat-shalatnya bersama kakek Usman hingga pekerjaan proyeknya selesai  di tempat itu. Setelah peristiwa itu kini yang dipikirkannya hanyalah apakah ia bisa menunaikan setiap hak shalat dengan baik dan benar atau tidak. Untuk mencapai hal ini ia selalu berdoa pada Allah SWT, Rabb-nya.

0 Komentar


Kirimkan komentar anda untuk artikel ini