X logo

Majalah Pertama dan Satu-satunya yang berisi tentang Sains, Budaya dan Spiritualitas di Indonesia


Iklan tidak akan muncul selama 1 jam


Harap menunggu, aplikasi sedang memproses data ...

Catatan : Gangguan apapun terhadap proses ini dapat mengakibatkan kesalahan data


Harap menunggu, aplikasi sedang memproses data ...

Edisi Terbaru
Edisi Terbaru

Sosok Manusia Baru




          Sejarah telah membawa kita ke ambang era baru yang terbuka terhadap inayah dan pertolongan Tuhan. Disamping kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, atau yang paralel dengannya, selama dua atau tiga abad terakhir ini, kita telah menyaksikan perubahan global; nilai-nilai tradisional—atas nama pembaharuan—diganti dengan nilai-nilai baru dan asing. Kita berharap, dengan perkembangan yang menjanjikan, semoga abad mendatang akan menjadi era nilai-nilai keimanan dan moral, era yang akan menjadi saksi sebuah renaisans dan kebangkitan bagi orang-orang yang beriman.

Di tengah orang-orang yang bimbang, yang kurang bisa berpikir dan bernalar sehat, sosok manusia baru akan muncul. Mereka meskipun tetap menggunakan akal dan pengalaman, tetapi akan banyak memberikan penekanan pada pentingnya hati nurani dan inspirasi seperti yang dilakukan oleh para pendahulu mereka. Mereka akan mengejar kesempurnaan dalam segala hal, membentuk keseimbangan antara dunia dan akhirat, dan memadukan hati dengan pikiran.

Kehadiran orang-orang seperti itu tidak akan mudah. Semua kelahiran menyakitkan, tetapi kelahiran yang mulia ini akan berlangsung dan menyumbangkan sebuah generasi baru yang brilian kepada dunia. Sama seperti hujan turun perlahan ia terlebih dahulu mengumpulkan awan dan air yang naik dari bawah tanah. demikian juga halnya dengan  ‹‹kesuma-kesuma›› generasi baru ini akan bermunculan suatu hari nanti di tengah-tengah kita.

Manusia baru ini akan menjadi pribadi-pribadi yang memiliki integritas — bebas dari pengaruh luar— mandiri dan berkarakter. Tidak ada kekuatan duniawi yang akan sanggup mengikat mereka, dan tidak ada paham-paham yang akan menyebabkan mereka menyimpang dari jalannya. Benar-benar independen dari kekuasaan duniawi, mereka akan berpikir dan bertindak dengan bebas dan kebebasan mereka akan sebanding dengan pengabdiannya kepada Allah. Ketimbang meniru orang lain, mereka akan bergantung pada dinamika asli  yang berakar secara mendalam pada sejarah dan mencoba untuk melengkapi kecakapan sesuai dengan pertimbangan nilai-nilai otentik dirinya sendiri.

Manusia baru ini adalah seorang manusia yang bepikir, menyelidiki, percaya, terbuka pada kerohanian dan penuh dengan kenikmatan spiritual. Walaupun menggunakan fasilitas modern secara maksimal mereka tidak akan mengabaikan nilai-nilai kebangsaan dan spiritual dalam membangun dunianya.

Jika perubahan dan reformasi terkait dengan dan tergantung pada nilai-nilai universal yang kekal, hal ini mungkin akan disambut dengan antusias. Jika tidak, akan ada banyak unsur-unsur menarik karena kebaruan dan modernitas. Berdiri di atas dasar nilai-nilai yang kekal dan kokoh itu, manusia baru: baik pria maupun wanita, akan selalu melihat masa depan untuk menerangi kegelapan yang menyelimuti dunia.

Mereka akan benar-benar cinta kebenaran dan menjadi sosok terpercaya dalam mendukung kebenaran di manapun, bahkan selalu siap untuk meninggalkan keluarga dan rumah mereka bila memang diperlukan. Karena tidak ada keterikatan pada hal-hal duniawi, kenyamanan, atau kemewahan, mereka akan menggunakan bakat yang Allah berikan kepada mereka untuk memberi manfaat kemanusiaan dan menanam bibit-bibit masa depan yang membahagiakan. Lalu, terus-menerus mencari pertolongan dan keberhasilan dari Allah, mereka akan melakukan yang terbaik untuk melindungi benih-benih itu dari bahaya, seperti induk ayam melindungi telur-telurnya. Seluruh hidup mereka akan didedikasikan bagi jalan kebenaran.

Untuk tetap berhubungan dan berkomunikasi dengan pikiran, hati, dan perasaan orang lain, sosok manusia baru ini akan menggunakan media massa dan mencoba untuk membentuk keseimbangan kekuatan baru dalam hal keadilan, cinta, rasa hormat, dan kesetaraan. Mereka akan membuat kekuatan yang benar, dan tidak pernah melakukan diskriminasi atas dasar warna kulit atau ras.

manusia baru ini akan menyatukan: spiritualitas yang mendalam, pengetahuan yang beragam, pikiran yang sehat, rasa haus terhadap hal-hal ilmiah, dan tindakan yang bijaksana. Tidak pernah puas dengan apa yang mereka ketahui, mereka akan terus meningkatkan pengetahuan: pengetahuan tentang diri, alam, dan Allah.

Dilengkapi dengan moral dan kebajikan yang baik yang membuat mereka benar-benar menjadi manusia baru yang lebih mementingkan orang lain, merangkul kemanusiaan dengan cinta dan siap untuk mengorbankan diri untuk kebaikan orang lain bila diperlukan. Ketika mereka membentuk diri dalam cetakan kebajikan universal, mereka secara bersamaan akan berusaha untuk menerangi jalan orang lain. Mereka akan membela dan mendukung apa yang baik dan merekomendasikan hal ini kepada orang lain, sembari mencari tantangan, memerangi, dan memberantas segala kebetilan.

Manusia baru ini akan percaya bahwa Tuhan memberi mereka hidup di dunia sehingga mereka bisa mengenal dan menyembah-Nya. Tanpa membedakan antara kitab alam semesta (tempat asma-asma Allah diwujudkan dan karenanya penuh dengan tanda-tanda-Nya dan sebagai “tangga” menuju kepada-Nya) dan kitab suci Ilahi (terjemahan dari kitab semesta), mereka akan melihat sains dan agama sebagai dua manifestasi dari kebenaran yang sama.

Manusia baru memiliki jiwa membangun dan menolak segala bentuk penjiplakan. Ia selalu memperbaharui dirinya dan sangat mengusai bagaimana mengelola dengan baik segala peristiwa yang terjadi serta selalu berjalan di depan masanya. Mereka sangat bergantung sepenuhnya pada kekuasaan Allah namun tidak meninggalkan sebab atau hukum-hukum-Nya. Pasrah kepada yang Maha Besar berasal dari keimanannya.

Manusia baru adalah seorang penakluk dan penjelajah. Mereka akan menemukan hal-hal yang belum pernah diketahui sebelumnya. Mereka menganggap setiap waktu akan terbuang percuma jika tidak digunakan untuk mengambil langkah baru untuk menyelami serta memahami diri dan alam semesta. Ketika mereka membuka selubung yang menutupi wajah entitas, melalui iman dan pengetahuan,  mereka akan menjadi lebih bersemangat untuk terus melangkah maju. Dengan pesan dan jawaban yang diterima dari langit, bumi, dan laut, mereka akan terus melakukan perjalanan hingga kelak akan kembali kepada sang Maha Pencipta. (as/)

 

 

0 Komentar


Kirimkan komentar anda untuk artikel ini